Ketakutan
dalam kehilangan seseorang adalah hal yg wajar, bukan? Setiap orang pasti
memiliki kekhawatiran itu. Termasuk pada gadis itu..
Ia
melempar kerikil kecil yg ditemukannya itu ke danau sambil bersandar d pohon
besar, dengan tatapan kosongnya mengarah k danau dan pikiran yg entah ada
dimana. Ia begitu menikmati kesendiriannya.
**
**
"Haha
kakak sedang apa?"lelaki itu tertawa pelan tanpa beban setelah lelucon yg
diberikan oleh gadis itu, tak memperdulikan keadaan sekelilingnya. "Sedang
memasak" jawab gadis itu acuh tak acuh. Mata lelaki itu menyipit "Kau
bohong, jelas2 kakak sedang melukis knp mengatakan sedang memasak".
"Kau ini" gadis itu mengacak rambut lelaki itu gemas. "Sudah
jelas kau tahu jawabannya, mengapa menanyakannya lagi" lelaki itu terkekeh
pelan.
Di
satu sisi seorang gadis yg lebih muda dari mereka sedang memperhatikannya. Ia
tersenyum getir. Lalu berlalu begitu saja. Tak ingin melihat lebih lanjut lagi
drama itu yg mulai mengukir keperihan baru d hatinya.
Ia
baru menyadari bahwa lelaki itu benar2 tersenyum tulus pada kakak kelasnya itu.
Lelaki itu terlihat bahagia jika bersama kakak kelas itu. Ia membatin.
Ia
kembali menatap kosong lapang itu, setelah ia melihat mereka berdua plg
masing2. Hari menjelang sore, namun gadis itu masih menikmati kesendiriannya,
kekasihnya benar2 tak menyadari kehadirannya, atau bahkan tak mempedulikannya? ah
sudahlah, itu tak penting.
Ia
mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sederet kata yang terus berputar di
benaknya.
Setelah
sekian menit. Ponselnya bergetar, balasan dari kekasihnya. Ia membukanya lalu
mendengus. "Apa maksudmu? Ada apa denganmu?"
"Tak
apa". Ia mengetikan pesan terakhirnya. Lalu menghempaskan ponsel itu d
kursi kosong sebelahnya. Ia menutupi wajahnya dgn kedua tangannya. Kecewa. Cemburu.
Perih. Semua beradu satu merobohkan segala harapan yg ada.
Tangannya
basah, tubuhnya bergetar, tanpa disadari ia menangis. Ia sesenggukan menahan
luka baru yg timbul d atas luka lamanya.
**
“..Lalu tanpa disengaja, ia
terpeleset lagi hingga membuat buku-buku yang telah berada di genggamannya kini
terjatuh lagi.” Ia tertawa, mau tak mau gadis yang berada di sebelahnya yang
kini sedang mendengarkan cerita lelaki itu pun ikut tertawa. Kini mereka sedang
berada di koridor menuju perpustakaan. Sebenarnya hanya gadis itu saja yang
akan menuju ke perpustakaan, namun ketika Deva, -lelaki yang kini tengah
menemaninya-, melihatnya tengah kesusahan langsung beranjak untuk membantunya.
“Kau tak sedang latihan kan?” ia mengernyit bingung, ketika melihat lelaki itu
sedang memakai pakaian basket. Jam sekolah sudah berakhir, dan hari ini hari
Kamis, biasanya lelaki itu tak akan langsung pulang karena ada jam ekskul.
“Tidak” jawabnya acuh tak acuh. “Mungkin sedikit telat dan mendapat sedikit
hukuman akan lebih baik” ia melanjutkan sambil mengangkat bahunya. “Kau ini!”
sambil menucubit lengan lelaki itu pelan lalu melenggang pergi meninggalkan
deva yang sedang meringis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar