Rabu, 12 November 2014

Injury



Ketakutan dalam kehilangan seseorang adalah hal yg wajar, bukan? Setiap orang pasti memiliki kekhawatiran itu. Termasuk pada gadis itu..
Ia melempar kerikil kecil yg ditemukannya itu ke danau sambil bersandar d pohon besar, dengan tatapan kosongnya mengarah k danau dan pikiran yg entah ada dimana. Ia begitu menikmati kesendiriannya.
**
"Haha kakak sedang apa?"lelaki itu tertawa pelan tanpa beban setelah lelucon yg diberikan oleh gadis itu, tak memperdulikan keadaan sekelilingnya. "Sedang memasak" jawab gadis itu acuh tak acuh. Mata lelaki itu menyipit "Kau bohong, jelas2 kakak sedang melukis knp mengatakan sedang memasak". "Kau ini" gadis itu mengacak rambut lelaki itu gemas. "Sudah jelas kau tahu jawabannya, mengapa menanyakannya lagi" lelaki itu terkekeh pelan.
Di satu sisi seorang gadis yg lebih muda dari mereka sedang memperhatikannya. Ia tersenyum getir. Lalu berlalu begitu saja. Tak ingin melihat lebih lanjut lagi drama itu yg mulai mengukir keperihan baru d hatinya.
Ia baru menyadari bahwa lelaki itu benar2 tersenyum tulus pada kakak kelasnya itu. Lelaki itu terlihat bahagia jika bersama kakak kelas itu. Ia membatin.
Ia kembali menatap kosong lapang itu, setelah ia melihat mereka berdua plg masing2. Hari menjelang sore, namun gadis itu masih menikmati kesendiriannya, kekasihnya benar2 tak menyadari kehadirannya, atau bahkan tak mempedulikannya? ah sudahlah, itu tak penting.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sederet kata yang terus berputar di benaknya.
Setelah sekian menit. Ponselnya bergetar, balasan dari kekasihnya. Ia membukanya lalu mendengus. "Apa maksudmu? Ada apa denganmu?"
"Tak apa". Ia mengetikan pesan terakhirnya. Lalu menghempaskan ponsel itu d kursi kosong sebelahnya. Ia menutupi wajahnya dgn kedua tangannya. Kecewa. Cemburu. Perih. Semua beradu satu merobohkan segala harapan yg ada.
Tangannya basah, tubuhnya bergetar, tanpa disadari ia menangis. Ia sesenggukan menahan luka baru yg timbul d atas luka lamanya.
**
            “..Lalu tanpa disengaja, ia terpeleset lagi hingga membuat buku-buku yang telah berada di genggamannya kini terjatuh lagi.” Ia tertawa, mau tak mau gadis yang berada di sebelahnya yang kini sedang mendengarkan cerita lelaki itu pun ikut tertawa. Kini mereka sedang berada di koridor menuju perpustakaan. Sebenarnya hanya gadis itu saja yang akan menuju ke perpustakaan, namun ketika Deva, -lelaki yang kini tengah menemaninya-, melihatnya tengah kesusahan langsung beranjak untuk membantunya. “Kau tak sedang latihan kan?” ia mengernyit bingung, ketika melihat lelaki itu sedang memakai pakaian basket. Jam sekolah sudah berakhir, dan hari ini hari Kamis, biasanya lelaki itu tak akan langsung pulang karena ada jam ekskul. “Tidak” jawabnya acuh tak acuh. “Mungkin sedikit telat dan mendapat sedikit hukuman akan lebih baik” ia melanjutkan sambil mengangkat bahunya. “Kau ini!” sambil menucubit lengan lelaki itu pelan lalu melenggang pergi meninggalkan deva yang sedang meringis.

Kau, Aku, Tahu itu.



Gadis itu berlari-lari kecil diiringi senyumnya yg seakan tak pernah pudar. Ia berhenti dan kemudian merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan kedua matanya, merasakan sejuknya udara yg menerpa wajahnya juga rambutnya yg tergerai.
"kaka?" panggilnya pada seseorang masih dalam posisi seperti itu.
"hmm" sedetik kemudian terdengar suara di sampingnya menyahut panggilannya.
"aku beruntung" gadis itu masih tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada laki-laki yg ada di sampingnya.
"sebelumnya aku tak pernah merasa seberuntung ini"
"kau hadir, lalu mengisi hari-hariku" lanjutnya,
"dan mengajarkanku banyak hal" ia masih tetap tersenyum  laki-laki itu masih tetap bergeming, namun sambil menatap gadis itu dalam. Ia pun merasakan hal yg sama.
"Aku menyayangimu kak" ia tersenyum manis begitu tulus.
"kakak juga sayang" akhirnya laki-laki itu mengeluarkan suaranya. Kemudian ia mengacak-ngacak rambut gadis itu, gemas akan tingkah lakunya.
"sayang, seandainya aku pergi apa yg akan kau lakukan?"
"aku tak akan melepasmu", "aku tak akan membiarkanmu pergi" ucapnya mulai menerawang.
"namun, seandainya rasa itu telah pergi... disaat itulah aku harus melepasmu" gadis itu tersenyum pilu
senyum laki-laki itu pudar berganti dengan kebingungan yg mulai menjalarinya. "Maksudmu sayang?" ia tak bisa menahan rasa penasarannya.
"aku tak boleh egois kan?" tanya gadis itu.
namun laki-laki itu tetap bergeming  seakan tak membutuhkan jawaban dri pertanyaannya, gadis itu melanjutkan
"aku tak mungkin tetap mempertahankan sesuatu yg seharusnya dipertahankan bersama namun aku mlah mempertahankannya sendirian, bukan?"
"baiklah..baiklah kalau kakak tak mengerti" ucap gadis itu menyerah, ia mengambil napas dalam2 dan dikeluarkannya perlahan.
"mungkin kau sedang lambat untuk berpikir ya kak" guraunya, mencairkan sedikit suasana yg beku tadi.
"haaah kau ini! masih sempat-sempatnya" laki-laki itu lalu menggelitiki gadis itu pelan, sedikit kesal karena ucapannya. namun ia tetap tersenyum.
"aah sudah ka, aku lelah" gadis itu terkekeh pelan.
“Apa rencanamu hari ini?” tanya gadis itu membuyarkan lamunan lelaki itu yg kini tengah duduk bersamanya.
“Aku? Maksudmu kita?” godanya.
“Kau blg rencana kita hari ini takkan jadi” ia mengernyit, curiga kekasihnya sedang berbohong kepadanya. Beberapa saat berlalu, tak terdengar sedikit pun yang keluar dari lelaki itu, lalu gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat bahwa kekasihnya kini tengah menatapnya sambil menahan senyumnya, hingga tiba-tiba semburat merah muncul di pipi gadis itu, baru sadar telah diperhatikan oleh kekasihnya.
“Maaf” lelaki itu terkekeh pelan, “hanya saja aku sedikit menyesal harus membatalkan rencana kita hari ini” lalu ia memegang dagu gadisnya hingga bisa menatapnya, “Hey kau tahu? Sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan hari ini bersamamu, hanya bersamamu” ian tersenyum lembut. Semilir angin gugur mulai menerpa mereka, seakan mendukung posisi mereka. “Maafkan aku” lelaki itu berucap sekali lagi, sungguh menyesal, ketika melihat kilatan kekecewaan sekilas dari gadisnya itu.
“Tak apa” eve mengangguk seakan meyakinkan bahwa hal itu tak memberatkannya, ia lalu tertawa pelan. “Kau tak perlu benar-benar menyesal seperti itu ka” ia mengamit lengan lelakinya lalu melingkarkannya di pundaknya, merasakan kehangatan yang bisa membuatnya nyaman. “Eve, kau lupa?” ian mengeratkan pelukannya. “Lupa apa?” makin hari sepertinya penyakit lupanya makin meningkat. “Aku akan pergi lama, mungkin beberapa bulan, itu berarti bukan hanya sekedar membatalkan rencana kita hari ini saja eve”