Gadis itu berlari-lari kecil
diiringi senyumnya yg seakan tak pernah pudar. Ia berhenti dan kemudian
merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan kedua matanya, merasakan sejuknya
udara yg menerpa wajahnya juga rambutnya yg tergerai.
"kaka?" panggilnya pada
seseorang masih dalam posisi seperti itu.
"hmm" sedetik
kemudian terdengar suara di sampingnya menyahut
panggilannya.
"aku
beruntung" gadis itu masih tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada
laki-laki yg ada di sampingnya.
"sebelumnya
aku tak pernah merasa seberuntung ini"
"kau
hadir, lalu mengisi hari-hariku" lanjutnya,
"dan
mengajarkanku banyak hal" ia masih tetap tersenyum laki-laki itu
masih tetap bergeming, namun sambil menatap gadis itu dalam. Ia pun merasakan
hal yg sama.
"Aku
menyayangimu kak" ia tersenyum manis begitu tulus.
"kakak
juga sayang" akhirnya laki-laki itu mengeluarkan suaranya. Kemudian ia
mengacak-ngacak rambut gadis itu, gemas akan tingkah lakunya.
"sayang,
seandainya aku pergi apa yg akan kau lakukan?"
"aku
tak akan melepasmu", "aku tak akan membiarkanmu pergi" ucapnya
mulai menerawang.
"namun,
seandainya rasa itu telah pergi... disaat itulah aku harus melepasmu"
gadis itu tersenyum pilu
senyum
laki-laki itu pudar berganti dengan kebingungan yg mulai menjalarinya. "Maksudmu
sayang?" ia tak bisa menahan rasa penasarannya.
"aku
tak boleh egois kan?" tanya gadis itu.
namun
laki-laki itu tetap bergeming seakan tak membutuhkan jawaban dri pertanyaannya, gadis
itu melanjutkan
"aku
tak mungkin tetap mempertahankan sesuatu yg seharusnya dipertahankan bersama
namun aku mlah mempertahankannya sendirian, bukan?"
"baiklah..baiklah
kalau kakak tak mengerti" ucap gadis itu menyerah, ia mengambil napas
dalam2 dan dikeluarkannya perlahan.
"mungkin
kau sedang lambat untuk berpikir ya kak" guraunya, mencairkan sedikit
suasana yg beku tadi.
"haaah
kau ini! masih sempat-sempatnya" laki-laki itu lalu menggelitiki gadis itu
pelan, sedikit kesal karena ucapannya. namun ia tetap tersenyum.
"aah
sudah ka, aku lelah" gadis itu terkekeh pelan.
“Apa
rencanamu hari ini?” tanya gadis itu membuyarkan lamunan lelaki itu yg kini
tengah duduk bersamanya.
“Aku?
Maksudmu kita?” godanya.
“Kau
blg rencana kita hari ini takkan jadi” ia mengernyit, curiga kekasihnya sedang
berbohong kepadanya. Beberapa saat berlalu, tak terdengar sedikit pun yang
keluar dari lelaki itu, lalu gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat
bahwa kekasihnya kini tengah menatapnya sambil menahan senyumnya, hingga
tiba-tiba semburat merah muncul di pipi gadis itu, baru sadar telah
diperhatikan oleh kekasihnya.
“Maaf”
lelaki itu terkekeh pelan, “hanya saja aku sedikit menyesal harus membatalkan
rencana kita hari ini” lalu ia memegang dagu gadisnya hingga bisa menatapnya,
“Hey kau tahu? Sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan hari ini bersamamu,
hanya bersamamu” ian tersenyum lembut. Semilir angin gugur mulai menerpa
mereka, seakan mendukung posisi mereka. “Maafkan aku” lelaki itu berucap sekali
lagi, sungguh menyesal, ketika melihat kilatan kekecewaan sekilas dari gadisnya
itu.
“Tak
apa” eve mengangguk seakan meyakinkan bahwa hal itu tak memberatkannya, ia lalu
tertawa pelan. “Kau tak perlu benar-benar menyesal seperti itu ka” ia mengamit
lengan lelakinya lalu melingkarkannya di pundaknya, merasakan kehangatan yang
bisa membuatnya nyaman. “Eve, kau lupa?” ian mengeratkan pelukannya. “Lupa
apa?” makin hari sepertinya penyakit lupanya makin meningkat. “Aku akan pergi
lama, mungkin beberapa bulan, itu berarti bukan hanya sekedar membatalkan rencana
kita hari ini saja eve”
kaka? ka wildan?hehe
BalasHapusdes bikin cerita tentang kita
BalasHapushaha iya pana ka wildan hahaa :D
BalasHapuseh Des tambahin lagi ceritanya masih ada yang kurang sedikit lagi hehe
pana: bukan ihhh pandut:(
BalasHapuswawa: okee ntar aku nyelsein dl yg fantasy tapi ya wa:v
fika: iya dan belum beres kaa ini teh:3
ohh haha sok ath beresin des :D
BalasHapusah jangan bohong ah:v
BalasHapusahaha ayo desek si dedes biar ngaku :D
BalasHapus