Rabu, 12 November 2014

Kau, Aku, Tahu itu.



Gadis itu berlari-lari kecil diiringi senyumnya yg seakan tak pernah pudar. Ia berhenti dan kemudian merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan kedua matanya, merasakan sejuknya udara yg menerpa wajahnya juga rambutnya yg tergerai.
"kaka?" panggilnya pada seseorang masih dalam posisi seperti itu.
"hmm" sedetik kemudian terdengar suara di sampingnya menyahut panggilannya.
"aku beruntung" gadis itu masih tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada laki-laki yg ada di sampingnya.
"sebelumnya aku tak pernah merasa seberuntung ini"
"kau hadir, lalu mengisi hari-hariku" lanjutnya,
"dan mengajarkanku banyak hal" ia masih tetap tersenyum  laki-laki itu masih tetap bergeming, namun sambil menatap gadis itu dalam. Ia pun merasakan hal yg sama.
"Aku menyayangimu kak" ia tersenyum manis begitu tulus.
"kakak juga sayang" akhirnya laki-laki itu mengeluarkan suaranya. Kemudian ia mengacak-ngacak rambut gadis itu, gemas akan tingkah lakunya.
"sayang, seandainya aku pergi apa yg akan kau lakukan?"
"aku tak akan melepasmu", "aku tak akan membiarkanmu pergi" ucapnya mulai menerawang.
"namun, seandainya rasa itu telah pergi... disaat itulah aku harus melepasmu" gadis itu tersenyum pilu
senyum laki-laki itu pudar berganti dengan kebingungan yg mulai menjalarinya. "Maksudmu sayang?" ia tak bisa menahan rasa penasarannya.
"aku tak boleh egois kan?" tanya gadis itu.
namun laki-laki itu tetap bergeming  seakan tak membutuhkan jawaban dri pertanyaannya, gadis itu melanjutkan
"aku tak mungkin tetap mempertahankan sesuatu yg seharusnya dipertahankan bersama namun aku mlah mempertahankannya sendirian, bukan?"
"baiklah..baiklah kalau kakak tak mengerti" ucap gadis itu menyerah, ia mengambil napas dalam2 dan dikeluarkannya perlahan.
"mungkin kau sedang lambat untuk berpikir ya kak" guraunya, mencairkan sedikit suasana yg beku tadi.
"haaah kau ini! masih sempat-sempatnya" laki-laki itu lalu menggelitiki gadis itu pelan, sedikit kesal karena ucapannya. namun ia tetap tersenyum.
"aah sudah ka, aku lelah" gadis itu terkekeh pelan.
“Apa rencanamu hari ini?” tanya gadis itu membuyarkan lamunan lelaki itu yg kini tengah duduk bersamanya.
“Aku? Maksudmu kita?” godanya.
“Kau blg rencana kita hari ini takkan jadi” ia mengernyit, curiga kekasihnya sedang berbohong kepadanya. Beberapa saat berlalu, tak terdengar sedikit pun yang keluar dari lelaki itu, lalu gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat bahwa kekasihnya kini tengah menatapnya sambil menahan senyumnya, hingga tiba-tiba semburat merah muncul di pipi gadis itu, baru sadar telah diperhatikan oleh kekasihnya.
“Maaf” lelaki itu terkekeh pelan, “hanya saja aku sedikit menyesal harus membatalkan rencana kita hari ini” lalu ia memegang dagu gadisnya hingga bisa menatapnya, “Hey kau tahu? Sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan hari ini bersamamu, hanya bersamamu” ian tersenyum lembut. Semilir angin gugur mulai menerpa mereka, seakan mendukung posisi mereka. “Maafkan aku” lelaki itu berucap sekali lagi, sungguh menyesal, ketika melihat kilatan kekecewaan sekilas dari gadisnya itu.
“Tak apa” eve mengangguk seakan meyakinkan bahwa hal itu tak memberatkannya, ia lalu tertawa pelan. “Kau tak perlu benar-benar menyesal seperti itu ka” ia mengamit lengan lelakinya lalu melingkarkannya di pundaknya, merasakan kehangatan yang bisa membuatnya nyaman. “Eve, kau lupa?” ian mengeratkan pelukannya. “Lupa apa?” makin hari sepertinya penyakit lupanya makin meningkat. “Aku akan pergi lama, mungkin beberapa bulan, itu berarti bukan hanya sekedar membatalkan rencana kita hari ini saja eve”

7 komentar:

  1. haha iya pana ka wildan hahaa :D
    eh Des tambahin lagi ceritanya masih ada yang kurang sedikit lagi hehe

    BalasHapus
  2. pana: bukan ihhh pandut:(
    wawa: okee ntar aku nyelsein dl yg fantasy tapi ya wa:v
    fika: iya dan belum beres kaa ini teh:3

    BalasHapus
  3. ohh haha sok ath beresin des :D

    BalasHapus
  4. ahaha ayo desek si dedes biar ngaku :D

    BalasHapus